tulisantulisan dari pinggir jembatan merahputih ambon, delapan november duaributujuhbelas;

I

bernegara itu seperti duduk ngopi di kedai kesukaan bersama temanteman. lalu mengobrol banyak perihal yang asikasik, kecuali :

1. apa itu kopi?

2. coarse, medium atau fine?

3. arabica, robusta, luwak atau bajing loncat?

4. dan lain sebagainya yang pelikpelik sirius

 

nb : ngopi ya, ngopi aja. sbab yang filosofis itu dasar negara, bukannya dasar gelas.

II

ketuhanan yang maha satu. maar, ia bukan satusatunya. ia seperti layaknya kopi yang di dalamnya kadang kau campurkan air, susu dan gula. lalu kau minum tiaptiap hari. senin sampai minggu. tanpa perlu teriakteriak “punyaku lebih enak dari punyamu, mz”.

 

III

orangorang bilang “damai itu indah, hanya jikalau perut kenyang”. kubilang “damai cukup ketika aku bisa makan ikan segar yang tidak dipancing pakai, bom”.

 

IV

ibuku suka sekali berlamalama di dalam pasar. menurut dia, pasar mardika adalah segalanya. ia punya banyak : ikan, sayur, sendal, sepatu, pisau, sagu, kenari, karpet, popcorn juga alas bedak. ibuku tak suka pasar yang ajek, yang ituitu saja. seperti pasar di tantui yang hanya menjual ikan higienis, melulu.

Advertisements

4 thoughts on “tulisantulisan dari pinggir jembatan merahputih ambon, delapan november duaributujuhbelas;

Comments are closed.